jual foredi di bekasi jual foredi di cikarang jual foredi di jakarta

saco-indonesia.com, Hey! Hey! You! You! I don't like your girlfriend No way! No way! I think you need a new one Hey! Hey! You! You! I could

saco-indonesia.com,

Hey! Hey! You! You!
I don't like your girlfriend
No way! No way!
I think you need a new one
Hey! Hey! You! You!
I could be your girlfriend

Hey! Hey! You! You!
I know that you like me
No way! No way!
You know it's not a secret
Hey! Hey! You! You!
I want to be your girlfriend

You're so fine, I want you mine, You're so delicious
I think about you all the time, You're so addictive
Don't you know what I can do to make you feel all right?

Don't pretend, I think you know I'm damn precious
And hell yeah, I'm the mother fucking princess
I can tell you like me too, and you know I'm right

She's like, so whatever
You can do so much better
I think we should get together now
And that's what everyone's talking about

Hey! Hey! You! You!
I don't like your girlfriend
No way! No way!
I think you need a new one
Hey! Hey! You! You!
I could be your girlfriend

Hey! Hey! You! You!
I know that you like me
No way! No way!
You know it's not a secret
Hey! Hey! You! You!
I want to be your girlfriend

I can see the way, I see the way you look at me
And even when you look away, I know you think of me
I know you talk about me all the time again and again (and again, and again, and again)

So come over here and tell me what I wanna hear
Or better, yet, make your girlfriend disappear
I don't wanna hear you say her name ever again (and again, and again, and again)

Because...
[- From: http://www.elyrics.net -]

She's like so whatever
You can do so much better
I think we should get together now
And that's what everyone's talking about

Hey! Hey! You! You!
I don't like your girlfriend
No way! No way!
I think you need a new one
Hey! Hey! You! You!
I could be your girlfriend

Hey! Hey! You! You!
I know that you like me
No way! No way!
You know it's not a secret
Hey! Hey! You! You!
I want to be your girlfriend

In a second you'll be wrapped around my finger
'Cause I can, 'cause I can do it better
There's no other, so when's it gonna sink in
She's so stupid, what the hell were you thinking?

In a second you'll be wrapped around my finger
'Cause I can, 'cause I can do it better
There's no other, so when's it gonna sink in
She's so stupid, what the hell were you thinking?

Hey! Hey! You! You!
I don't like your girlfriend
No way! No way!
I think you need a new one
Hey! Hey! You! You!
I could be your girlfriend

Hey! Hey! You! You!
I know that you like me
No way! No way!
You know it's not a secret
Hey! Hey! You! You!
I want to be your girlfriend

Hey! Hey! You! You!
I don't like your girlfriend
No way! No way!
I think you need a new one
Hey! Hey! You! You!
I could be your girlfriend

Hey! Hey! You! You!
I know that you like me
No way! No way!
You know it's not a secret
Hey! Hey! You! You!
I want to be your girlfriend

Hey Hey!

Editor : dian sukmawati 

Pria berkulit putih diduga pelaku pembunuh kekasih di kosan Jalan Pos Utara No.3D RT 04/1 Kelurahan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, masih diburu polisi.

Pria berkulit putih diduga pelaku pembunuh kekasih di kosan Jalan Pos Utara No.3D RT 04/1 Kelurahan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, masih diburu polisi.

“Kami juga masih mengalami kesulitan karena jenazah belum dapat dikenali,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakpus AKBP Tatan Dirsan Atmaja.

Hingga saat itu, petugas gabungan dari Polsek Sawah Besar dan Polres Jakpus, juga masih menguber pelaku yang disenyalir masih berada di Jakarta.

Dari keterangan 6 saksi, pelaku diperkirakan orang Sumatera.

Wanita berusia sekitar 20 tahun, dengan tato bertulis ‘Shelly’ dipundak ditemukan penjaga kos Nurkholis, sudah mulai membusuk dengan luka jeratan tali tas terlentang di balik pintu kamar.

Oleh petugas Polsek Sawah Besar, jenazah wanita berambut panjang itu dikirim ke RSCM.

Selain ciri-ciri diatas, korban saat ditemui dengan mengenakan kutek hijau di jari kaki, memakai celana pendek ketat dan baju kaos putih motif manik-manik, bertulis Made in England. Kini jenazah wanita malang itu masih berada di kamar pendingin rumah sakit.

Kapolsek Sawah Besar Kompol Shinto Silitonga, juga telah membenarkan kalau jenazah sudah diotopsi Rabu (12/3) malam.”Otopsi sengaja dipercepat tanpa menunggu persetujuan orangtua, ini dikarenakan guna untuk kepetingan penyidikan apakah korban diperkosa, tapi hasil visum wanita itu tidak ada tanda pemerkosaan,” tegas petugas di Mapolsek Sawah Besar.

Karena korban belum dikenali, petugas sedikit mengalami kesulitan untuk dapat mengejar pelaku namun dari para saksi polisi terus menguber kekasihnya yang melakukan pembunuhan.

“Kami yakin pelaku akan bisa tertangkap, mudah-mudah dalam waktu singkat pria berhidung mancung dan bermata agak sipit bisa tertangkap,”ujar salah satu petugas.

Hingga saat ini ke enam saksi itu telah dimintai keterangan secara intensip, dan saksi juga menuturkan kalau pria kekasih wanita itu kadang ngomongnya seperti logat Palembang dan Lampung. Kini puluhan sanggota serse telah menyebar menguber pelaku yang diperkirakan masih berada di kawasan Jakarta

Alloh menjanjikan kepada umatnya surga yang kekal abadi, yang diriwayatkan disurga itu apabila kita menginginkan sesuatu yang ma

Alloh menjanjikan kepada umatnya surga yang kekal abadi, yang diriwayatkan disurga itu apabila kita menginginkan sesuatu yang masih ada di angan-angan kita barang yang kita inginkan itu sudah ada dihadapan kita, rumah yang kita tempati terbuat dari permata yang diukir diberi bidadari 12.500 bagi penghuni surga tertinggi subhanalloh,  dengan sarat dan ketentuan yang telah ditentukan dalam surat anisa ayat 13 seperti firman Alloh dibawah ini :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ

Yang artinya barang sipa taat Alloh dan rasulnya maka akan dimasukkan ke surganya Alloh

liwon maulana :sumber Aq-Quran & Al-Hadist

Sebagai negara tropis Indonesia telah mempunyai udara yang cenderung panas dan gerah. Untuk itu tak sedikit rumah-rumah modern s

Sebagai negara tropis Indonesia telah mempunyai udara yang cenderung panas dan gerah. Untuk itu tak sedikit rumah-rumah modern sekarang yang telah dilengkapi dengan penyejuk udara atau Sparepart AC.

Namun seiring dengan usia pemakaian, sering terjadi Sparepart AC anda menjadi kurang dingin bahkan tak dingin sama sekali. Apa penyebabnya ?

1. Sparepart AC yang kotor, filter di unit AC yang kotor dapat menyebabkan terhalangnya peredaran udara dingin yang dibuat dari evaburator. Maka kerjakan minimal satu bulan sekali guna untuk membersihkan sisi AC itu supaya penyerapan udara dingin dapat makin optimal.

2. Bagian evaburator (evab) kotor, biarpun pada sparepart AC sudah dilengkapi dengan filter, akan tetapi debu yang halus sebagian tak tersaring filter itu, dengan begitu bakal masuk serta melekat pada area evaburator dimana lama-lama bakal penuh serta  bakal menghambat penyerapan udara dingin yang dibuat evaburator. Guna untuk menangkal penumpukan debu kerjakan pencucian area evaburator minimal tiga bulan sekali. Pada pembersihan area evab sebaiknya memakai layanan dari penyedia servis yang anda percaya. Sebab bila pencucian dikerjakan oleh seseorang yang tidak benar-benar mengerti tentang AC mungkin ketika pencucian, modul PCB bisa terpapar air, dimana pastinya menyebabkan korslet ketika dihidupkan. Sekaligus jugs dapat menyebabkan kerusakan di suku cadang lainnya.

3. Gas freon sedikit. Tekanan freon yang menurun dapat menyebabkan pencapaian temperatur dingin bakal membutuhkan tempo yang lumayan lama, dengan begitu kerja kompresor juga turut lama serta tiada waktu standby, serta yang bakal ada kompresor menjadi demikian panas juga bakal membuat pendek usia kompresor itu. Pada yang satu ini tidak boleh dikerjakan sendiri apabila anda tidak paham mengenai metode pengisian freon maupun berapa besar yang mesti diisikan. Sebab pengisian freon mesti dicocokkan pada power mesinnya

4. Kondensor kotor, kondensor alias lang cenderung dikenal pada unit outdoor sparepart AC atau disebut juga blower ini pun mesti terpelihara kebersihannya. Sebab ketika AC hidup, unit AC bakal mengalami panas di kondensornya, serta panas itu dibuang lewat terdapatnya  kipas yang terdapat pada sparepart AC itu. Serta jika prosedur pembuangan udara tidak mulus atau optimal, panas kondensor juga bakal terlalu tinggi, sehingga AC menjadi kurang dingin. Juga yang cenderung merepotkan jika mengabaikan kondensor kotor, lama-lama kompresor pun bakal mendapatkan panas berlebihan serta bakal overload. Bila dibiarkan maka kerja kompresor bakal melemah serta bakal membuat pendek usia kompresor. Oh ya jika kondensor terlampau kotor pun menyebabkan kerja kompresor menjadi berat serta penggunaan listrik pun  bakal meningkat alias bertambah, maupun juga yang dikatakan ampere naik melampaui standar wajarnya

 

saco-indonesia.com, Mikha Angelo bersama grup bandnya The Overtunes mengaku jika saat ini sedang menyiapkan debut single yang ak

saco-indonesia.com, Mikha Angelo bersama grup bandnya The Overtunes mengaku jika saat ini sedang menyiapkan debut single yang akan rilis pada bulan depan. Bahkan tahun depan, mereka akan menargetkan untuk debut albumnya.

Melempar single ke pasaran diakui Mikha untuk dapat mengetahui animo masyarakat terhadap keberadaan The Overtunes di belantika musik Indonesia.

"Kita juga lagi siapkan single, rencanaya akan rilis bulan depan. Jadi kita juga ingin mengetes dulu ke pasaran sebelum kita akan keluarkan album terbaru . Album targetnya tahun depanlah," kata Mika saat ditemui di Perayaan Ulang Tahun MNC TV ke-22, Kawasan TMII Jakarta Timur.

Kendati demikian, band yang telah digawangi oleh Mikha Angelo, Reuben Nathaniel dan Mada Emmanuelle ini akan tetap membuat lagu yang nantinya akan masuk di album perdana mereka. Dalam waktu yang dekat ini mereka juga ingin melepas single ke pasaran dengan video klip yang baru digarap beberapa waktu lalu.

"Sekarang lagi bikin-bikin lagu, ngumpulin materi dulu," kata Mada. "Jadi itu video klip single baru kita yang akan dirilis bulan depan," tambah Reuben.

Editor : dian sukmawati
Sumber : kapanlagi.com

saco-indonesia.com, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memutuskan pemberian ucapan terima kasih berupa uang atau barang da

saco-indonesia.com, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memutuskan pemberian ucapan terima kasih berupa uang atau barang dan biaya transport kepada penghulu nikah termasuk gratifikasi. Hal itu telah diputuskan oleh KPK setelah mengadakan rapat koordinasi dengan Kemenag, Kemenkokesra, Kemenkeu, Bappenas, yang telah membahas soal praktik pelaksanaan nikah oleh KUA di berbagai tempat.

"Dari rapat hari ini telah disepakati; praktik penerimaan honor, tanda terima kasih, pengganti uang transport dalam pencatatan nikah adalah gratifikasi sebagaimana yang tertera  dalam pasal 12B UU Tipikor," ujar Direktur Gratifikasi Giri Suprapdiono di KPK, Rabu (18/12).

Giri juga mengatakan anggaran operasional di KUA akan dinaikkan guna untuk mencegah para penghulu menerima ucapan imbalan dari pasangan yang dinikahkan. Sebab, menurutnya, uang operasional sebesar Rp 2 juta per bulan dianggap tidak dapat mencukupi biaya transport.

"Anggaran operasional cuma Rp 2 juta perbulan, tahun depan Rp 3 juta perbulan itu pun juga digunakan untuk operasional kantor. Maka dipandang biaya tersebut tidak dapat memenuhi transport pengulu," ujar Giri.

Pihaknya telah memahami banyak penghulu yang tidak memiliki transport untuk bisa datang ke tempat pernikahan. Hal itu yang dapat menjadi celah untuk penerimaan gratifikasi.

"Hanya sedikit yang punya alat transport, pada dasarnya gak ada sarana dan prasarana penghulu untuk bisa mendatangani pengantin, inilah yang jadi celah untuk penerimaan gratifikasi," ujar Giri.

Giri juga menambahkan jika nanti ada penghulu yang menerima honor, tanda terimakasih, atau uang transport, dari pengantin, harus segera dilaporkan kepada KPK.

"Setiap penerimaan gratifikasi harus dilaporkan kepada KPK dan untuk bisa memudahkan akan diatur mekanisme kemudian," tambahnya.

Selain itu, biaya operasional pencatatan di luar jam kantor, akan dibebankan ke APBN. Untuk itu, pemerintah juga perlu mengubah PP Nomor 7 Tahun 2004.

"1. Biaya operasional pencatatan di luar kantor, luar jam kantor dibebankan ke APBN. 2. Perlu ubah PP No 7/2004 paling lambat 2014. 3. Menunggu peraturan yang baru, Kemenag akan keluarkan peraturan menteri," pungkasnya.


Editor : Dian Sukmawati

    saco-indonesia.com,     Bila nanti aku pergi     Jangan lagi panggil ku kem

    saco-indonesia.com,

    Bila nanti aku pergi
    Jangan lagi panggil ku kembali
    Bila nanti aku pergi
    Takkan ada cinta kita lagi

    Kita bisa balik lagi, pisah lagi
    Apa kau mengerti
    Bahwa ini bukanlah…
    Bukan permainan… an…

    Kau tak bisa buatku menangis lagi
    Kau tak bisa buatku bersedih lagi
    Tanpa aku kau akan baik saja
    Tanpa kamu ku akan baik saja

    Kau tak bisa buatku menangis lagi… ii…

    Bila nanti kau sendiri
    Jangan ingat-ingat aku lagi

    Kita bisa balik lagi, pisah lagi
    Apa kau mengerti
    Bahwa ini bukanlah…
    Bukan permainan… an…

    Kau tak bisa buatku menangis lagi
    Kau tak bisa buatku bersedih lagi
    Tanpa aku kau akan baik saja
    Tanpa kamu ku akan baik saja

    Bila nanti aku pergi
    Tanpa aku kau akan baik saja
    Jangan lagi panggil ku kembali
    Tanpa kamu ku akan baik saja

    Bila nanti aku pergi
    Tanpa aku kau akan baik saja
    Takkan ada cinta kita lagi
    Tanpa kamu ku akan baik saja

    Kau tak bisa buatku menangis lagi
    Kau tak bisa buatku bersedih lagi
    Kau tak bisa buatku menangis lagi
    Kau tak bisa buatku bersedih lagi

    Bila nanti aku pergi
    Jangan lagi panggil ku kembali

    Bila nanti kau sendiri…
    Jangan ingat-ingat aku lagi…

    Editor : dian sukmawati

 

Rental Mobil Batam merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa sewa mobil di Batam yang berkomitmen untuk memberikan pelay

Rental Mobil Batam merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa sewa mobil di Batam yang berkomitmen untuk memberikan pelayanan jasa sewa mobil yang murah ditambah dengan pelayanan yang professional di Batam. Rental Mobil Batam menyediakan berbagai jenis mobil dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda seperti sewa mobil setir sendiri, sewa mobil dengan supir, maupun sewa mobil dengan supir dan BBM.

Armada Mobil Sewa Automatic dan Manual
Kami menyediakan berbagai jenis mobil mulai dari city car sampai dengan mobil sewa untuk keluarga dan rombongan seperti Toyota Avansa, Toyota Innova, Suzuki APV, Innova. Kami juga menyediakan armada mobil sewa transmisi automatic sehingga anda benar-benar menikmati perjalanan liburan atau bisnis anda selama berada di Batam. Semua mobil sewa kami dalam keadaan yang terbaik dan mendapatkan perawatan berkala. Untuk pemesanan mobil ( Car Rental Reservation ) silakan hubungi kami.

layanan Sewa Mobil di Batam Self Drive dan Plus Supir
Sewa mobil setir sendiri sangat cocok untuk para pelanggan atau calon pelanggan yang sudah sering berkunjung ke Batam atau yang sudah sering sewa mobil di Batam. Untuk Para pelanggan atau calon pelanggan yang baru pertama kali berkunjung ke Batam, kami menyarankan untuk menggunakan layanan sewa mobil dengan supir yang sudah menguasai daerah Batam dan obyek wisata di Batam sehingga anda dengan leluasa dapat menikmati keindahan pulau Batam.

saco-indonesia.com, Hendak main ke rumah sang kakak di Jalan Teluk Cendrawasih gang 13 RW 3/Rt 5, Malang, Jawa Timur, Wilda yang

saco-indonesia.com, Hendak main ke rumah sang kakak di Jalan Teluk Cendrawasih gang 13 RW 3/Rt 5, Malang, Jawa Timur, Wilda yang berusia (28) tahun telah kehilangan sepeda motornya jenis Vario CBS 125cc persis di depan halaman rumah.

Peristiwa pencurian ini diperkirakan telah berlangsung pada Rabu (1/2) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Wilda yang tidak menyangka akan kehilangan sepeda motor yang sehari-hari dipakai untuk berangkat dan pulang bekerja. Apalagi, jauh sebelumnya dia juga sudah sering memarkirkan kendaraan roda dua miliknya tersebut di depan halaman rumah sang kakak.

"Saya juga gak nyangka mas karena sebelum-sebelumnya saya parkir di depan halaman rumah gak hilang dan saya juga tidak merasa ada yang ikutin saya," ujar Wilda, kamis (2/1).

Sekitar pukul 19.00 WIB malam , Wilda tiba di rumah sang kakak dan mengunci rapat motor Vario Techno merah yang bernomor polisi N 6348 BH. Kemudian dia telah bergegas masuk ke dalam rumah, hanya berselang satu setengah jam, motor kesayangannya sudah hilang.

"Sekitar pukul 20.00 WIB malam , saya ditanyain sama kakak motor parkir di mana. Saya bilang parkir di depan rumah, tempat biasa parkir, kemudian saya coba check melihat dari depan pintu tapi udah gak ada, saya tegasin lagi lihat keluar ternyata benar-benar udah hilang dan kondisi sepi gak ada siapa-siapa," jelasnya.

Namun dirinya juga mengakui, bahwa di daerah tempat rumah sang kakak rawan dan sering dimasuki oleh maling. "Memang sih mas daerah sini itu rawan maling, banyak orang pendatang dan ngekos di sini, dan yang saya tahu orang-orang gembong hipnotis juga suka bawa orang masuk ke dalam gang sekitar sini," tandasnya.

Wilda sendiri telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Blimbing, Malang, Jawa Timur dan dirinya juga mengaku shock atas kejadian tersebut serta telah berusaha untuk mencari sepeda motornya.

"Saya juga dapat informasi dari sekitar orang rumah, mereka juga bilang biasanya setiap motor yang hasil curian dititipin dulu ke parkiran di seputar terminal dan kebetulan jarak rumah kakak saya ke terminal berdekatan. Saya coba cari kesana ada 8 sampai 9 tempat parkir penitipan motor, tapi tetap gak ketemu," keluhnya.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Hendak main ke rumah sang kakak di Jalan Teluk Cendrawasih gang 13 RW 3/Rt 5, Malang, Jawa Timur, Wilda yang berusia (28) tahun telah kehilangan sepeda motornya jenis Vario CBS 125cc persis di depan halaman rumah.

Peristiwa pencurian ini diperkirakan telah berlangsung pada Rabu (1/2) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Wilda yang tidak menyangka akan kehilangan sepeda motor yang sehari-hari dipakai untuk berangkat dan pulang bekerja. Apalagi, jauh sebelumnya dia juga sudah sering memarkirkan kendaraan roda dua miliknya tersebut di depan halaman rumah sang kakak.

"Saya juga gak nyangka mas karena sebelum-sebelumnya saya parkir di depan halaman rumah gak hilang dan saya juga tidak merasa ada yang ikutin saya," ujar Wilda, kamis (2/1).

Sekitar pukul 19.00 WIB malam , Wilda tiba di rumah sang kakak dan mengunci rapat motor Vario Techno merah yang bernomor polisi N 6348 BH. Kemudian dia telah bergegas masuk ke dalam rumah, hanya berselang satu setengah jam, motor kesayangannya sudah hilang.

"Sekitar pukul 20.00 WIB malam , saya ditanyain sama kakak motor parkir di mana. Saya bilang parkir di depan rumah, tempat biasa parkir, kemudian saya coba check melihat dari depan pintu tapi udah gak ada, saya tegasin lagi lihat keluar ternyata benar-benar udah hilang dan kondisi sepi gak ada siapa-siapa," jelasnya.

Namun dirinya juga mengakui, bahwa di daerah tempat rumah sang kakak rawan dan sering dimasuki oleh maling. "Memang sih mas daerah sini itu rawan maling, banyak orang pendatang dan ngekos di sini, dan yang saya tahu orang-orang gembong hipnotis juga suka bawa orang masuk ke dalam gang sekitar sini," tandasnya.

Wilda sendiri telah melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Blimbing, Malang, Jawa Timur dan dirinya juga mengaku shock atas kejadian tersebut serta telah berusaha untuk mencari sepeda motornya.

"Saya juga dapat informasi dari sekitar orang rumah, mereka juga bilang biasanya setiap motor yang hasil curian dititipin dulu ke parkiran di seputar terminal dan kebetulan jarak rumah kakak saya ke terminal berdekatan. Saya coba cari kesana ada 8 sampai 9 tempat parkir penitipan motor, tapi tetap gak ketemu," keluhnya.


Editor : Dian Sukmawati

Mr. Alger, who served five terms from Texas, led Republican women in a confrontation with Lyndon B. Johnson that may have cost Richard M. Nixon the 1960 presidential election.

“It was really nice to play with other women and not have this underlying tone of being at each other’s throats.”

As governor, Mr. Walker alienated Republicans and his fellow Democrats, particularly the Democratic powerhouse Richard J. Daley, the mayor of Chicago.

Ms. von Furstenberg made her debut in the movies and on the Broadway stage in the early 1950s as a teenager and later reinvented herself as a television actress, writer and philanthropist.

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Hockey is not exactly known as a city game, but played on roller skates, it once held sway as the sport of choice in many New York neighborhoods.

“City kids had no rinks, no ice, but they would do anything to play hockey,” said Edward Moffett, former director of the Long Island City Y.M.C.A. Roller Hockey League, in Queens, whose games were played in city playgrounds going back to the 1940s.

From the 1960s through the 1980s, the league had more than 60 teams, he said. Players included the Mullen brothers of Hell’s Kitchen and Dan Dorion of Astoria, Queens, who would later play on ice for the National Hockey League.

One street legend from the heyday of New York roller hockey was Craig Allen, who lived in the Woodside Houses projects and became one of the city’s hardest hitters and top scorers.

“Craig was a warrior, one of the best roller hockey players in the city in the ’70s,” said Dave Garmendia, 60, a retired New York police officer who grew up playing with Mr. Allen. “His teammates loved him and his opponents feared him.”

Young Craig took up hockey on the streets of Queens in the 1960s, playing pickup games between sewer covers, wearing steel-wheeled skates clamped onto school shoes and using a roll of electrical tape as the puck.

His skill and ferocity drew attention, Mr. Garmendia said, but so did his skin color. He was black, in a sport made up almost entirely by white players.

“Roller hockey was a white kid’s game, plain and simple, but Craig broke the color barrier,” Mr. Garmendia said. “We used to say Craig did more for race relations than the N.A.A.C.P.”

Mr. Allen went on to coach and referee roller hockey in New York before moving several years ago to South Carolina. But he continued to organize an annual alumni game at Dutch Kills Playground in Long Island City, the same site that held the local championship games.

The reunion this year was on Saturday, but Mr. Allen never made it. On April 26, just before boarding the bus to New York, he died of an asthma attack at age 61.

Word of his death spread rapidly among hundreds of his old hockey colleagues who resolved to continue with the event, now renamed the Craig Allen Memorial Roller Hockey Reunion.

The turnout on Saturday was the largest ever, with players pulling on their old equipment, choosing sides and taking once again to the rink of cracked blacktop with faded lines and circles. They wore no helmets, although one player wore a fedora.

Another, Vinnie Juliano, 77, of Long Island City, wore his hearing aids, along with his 50-year-old taped-up quads, or four-wheeled skates with a leather boot. Many players here never converted to in-line skates, and neither did Mr. Allen, whose photograph appeared on a poster hanging behind the players’ bench.

“I’m seeing people walking by wondering why all these rusty, grizzly old guys are here playing hockey,” one player, Tommy Dominguez, said. “We’re here for Craig, and let me tell you, these old guys still play hard.”

Everyone seemed to have a Craig Allen story, from his earliest teams at Public School 151 to the Bryant Rangers, the Woodside Wings, the Woodside Blues and more.

Mr. Allen, who became a yellow-cab driver, was always recruiting new talent. He gained the nickname Cabby for his habit of stopping at playgrounds all over the city to scout players.

Teams were organized around neighborhoods and churches, and often sponsored by local bars. Mr. Allen, for one, played for bars, including Garry Owen’s and on the Fiddler’s Green Jokers team in Inwood, Manhattan.

Play was tough and fights were frequent.

“We were basically street gangs on skates,” said Steve Rogg, 56, a mail clerk who grew up in Jackson Heights, Queens, and who on Saturday wore his Riedell Classic quads from 1972. “If another team caught up with you the night before a game, they tossed you a beating so you couldn’t play the next day.”

Mr. Garmendia said Mr. Allen’s skin color provoked many fights.

“When we’d go to some ignorant neighborhoods, a lot of players would use slurs,” Mr. Garmendia said, recalling a game in Ozone Park, Queens, where local fans parked motorcycles in a lineup next to the blacktop and taunted Mr. Allen. Mr. Garmendia said he checked a player into the motorcycles, “and the bikes went down like dominoes, which started a serious brawl.”

A group of fans at a game in Brooklyn once stuck a pole through the rink fence as Mr. Allen skated by and broke his jaw, Mr. Garmendia said, adding that carloads of reinforcements soon arrived to defend Mr. Allen.

And at another racially incited brawl, the police responded with six patrol cars and a helicopter.

Before play began on Saturday, the players gathered at center rink to honor Mr. Allen. Billy Barnwell, 59, of Woodside, recalled once how an all-white, all-star squad snubbed Mr. Allen by playing him third string. He scored seven goals in the first game and made first string immediately.

“He’d always hear racial stuff before the game, and I’d ask him, ‘How do you put up with that?’” Mr. Barnwell recalled. “Craig would say, ‘We’ll take care of it,’ and by the end of the game, he’d win guys over. They’d say, ‘This guy’s good.’”

With 12 tournament victories in his career, Mr. Peete was the most successful black professional golfer before Tiger Woods.

Mr. Tepper was not a musical child and had no formal training, but he grew up to write both lyrics and tunes, trading off duties with the other member of the team, Roy C. Bennett.

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.