jual foredi di bekasi jual foredi di cikarang jual foredi di jakarta

    saco-indonesia.com,     ayo kita semua anak manusia     yang tak luput dari

    saco-indonesia.com,

    ayo kita semua anak manusia
    yang tak luput dari dosa
    lelaki wanita yang tua yang muda
    semua pasti pernah salah

    tak ada satupun yang hidup sempurna
    karena status kita hamba
    yang Maha Sempurna ya Allah taala
    karena status Allah Tuhan kita

    wahai Allah wahai Tuhanku
    ampuni semua dosa-dosaku
    dosa ibu dan bapakku
    dan dosa-dosa semua hambamu
       wahai Allah wahai Tuhanku
       berikan kebaikan duniamu
       kebaikan akhiratmu,
       jauhkanlah api nerakamu

    berbuatlah untuk duniamu kawan
    seakan hidup selamanya
    berbuatlah untuk akhiratmu teman
    seakan esok tiada

    tak ada satupun yang hidup sempurna
    karena status kita hamba
    yang Maha Sempurna ya Allah taala
    karena status Allah Tuhan kita

    wahai Allah wahai Tuhanku
    ampuni semua dosa-dosaku
    dosa ibu dan bapakku
    dan dosa-dosa semua hambamu
       wahai Allah wahai Tuhanku
       berikan kebaikan duniamu
       kebaikan akhiratmu,
       jauhkanlah api nerakamu

    wahai Allah wahai Tuhanku
    ampuni semua dosa-dosaku
    dosa ibu dan bapakku
    dan dosa-dosa semua hambamu
       wahai Allah wahai Tuhanku
       berikan kebaikan duniamu
       kebaikan akhiratmu,
       jauhkanlah api nerakamu


    Editor : Dian Sukmawati

 

Jika dikatakan kepada Anda hanya sebuah kata, apa saja boleh, ambillah misalnya kata “air”. apa yang langsung hadir

Jika dikatakan kepada Anda hanya sebuah kata, apa saja boleh, ambillah misalnya kata “air”. apa yang langsung hadir dipikiran Anda?akan ada beribu-ribu jawaban yang muncul, cair, minum, haus, segar, larutan, Aqua, dll. Dari 100 orang yang berbeda akan memberikan lebih dari 1000 jawaban berbeda. Kata yang hadir dipikran anda disebut logical sequence, atau kata populernya  asosiasi. Kenapa disebut logical sequence..? karena kata tersebut dapat dengan mudah dihubungkan dengan kata kunci utama. Contoh air dan minu memiliki hubungan logika “digunakan”, yaitu Air digunakan untuk Minum. Air dengan Cair memiliki hubungan “logika jenis”, dan seterusnya.

Berbagai macam asosiasi yang digunakan untuk suatu kata kunci muncul karena adanya koneksi antara sel saraf (neuron) tertentu dimana tempat informasi kata kunci berada dengan neuron lainnya yang berisi info mengenai kata asosiasi. Namun jika dalam berpikir selalu menggunakan logical sequence yang simple, akan terperangkap pada zona pola pikir yang biasa, dan sudah banyak dipikirkan orang lain. Disinilah yang harus dilakukan untuk berani berfikir keluar, thinking ut of the box, berpikir kreatif, seharusnya menggunakan pola pikir yang berbeda, keluar dari zona yang biasa, yaitu pola pikir lateral.
tentang pola pikir lateral sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya di http://saco- indonesia.com/?backlink=222&idd=208

Pola pikir lateral digunakan untuk mencari ide baru bisa dilakukan dengan  4 tahap dibawah ini :
1. Pilih Fokus Anda,
2. Ambil salah satu Logical Sequence,
3. Buat Lateral Displacement,
4. Ciptakan Koneksi.

Yang harus dilakukan pertama kali dan paling penting adalah memilih fokus pikiran apa yang akan dilakukan. Apakah ingin mencari ide pengembangan untuk air, maka fokusnya pada air. Setelah Mendapat fokus, seperti paragraf pertama, ambil kata yang paling cepat muncul di benak Anda. Ingin melakukan percobaan Terhadap Api?, maka fokusnya adalah suatu proses spesifik dalam api. Kita lanjut ke tahap ke 3. Carilah kata apa saja yang tidak berhubungan. Seperti Api Diatas Air Atau Api Dibawah Air. Disinilah yang disebut thinking out of the box. Tahap berikutnya adalah mencari hubungan dengan otak kiri rasional kita. Kalau begitu, apakah mungkin Api berada diatas air??..?

Contoh yang nyata di dunia ini adalah magma yang berada dibawah laut. Namun bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang dapat digunakan manusia dalam kehidupan. Bisa di buat sebuah box yang berisi air bercahaya karena didalamnya ada api.

Sekali kita menemukan kata yang lateral dengan fokus kita, akan muncul banyak pertanyaan yang memaksa otak logis untuk menjawab. Elaborasi jawaban dari berbagai pertanyaan logis terkait hubungan ini akan membawa kita pada sebuah ide kreatif.

saco-indonesia.com, Buyuang Paman yang berusia (46) tahun , warga Pasia Paneh, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabu

saco-indonesia.com, Buyuang Paman yang berusia (46) tahun , warga Pasia Paneh, Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) telah ditemukan tergantung pada seutas tali di rumah korban. Korban pertama kali telah ditemukan oleh istrinya Karmila yang berusia (29) tahun , saat sampai di rumah sehabis bekerja.

"Sesampai di rumah, saya telah melihat ada kaki menjuntai dari luar rumah. Saat saya masuk rumah, rupanya itu kaki suami saya yang sudah tidak bernyawa," kata Karmila di Lubuk Basung, Minggu (2/2) kemarin .

Melihat kondisi itu, dia telah menjerit dan meminta tolong kepada tetangga dan beberapa menit setelah itu, tetangga datang untuk dapat memberikan pertolongan.

Ia juga menambahkan, pagi sebelum pergi bekerja sebagai tukang cuci, korban juga masih dalam keadaan sehat dan tinggal sendirian di rumah. Mereka juga belum memiliki anak setelah lima tahun menikah.

Kapolsek Tanjung Mutiara Iptu Jamhur, juga membenarkan kejadian itu dan telah menurunkan anggota Polsek. Selain itu tim identifikasi dari Polres Agam juga telah turun, serta petugas kesehatan dari Puskesmas Tanjung Mutiara untuk visum.

Dari hasil penyidikan awal, diduga korban gantung diri, karena lidah dan sperma keluar. Namun pihak kepolisian tetap melanjutkan penyelidikan.

"Korban tergantung pada tali nilon di kuda-kuda rumah semi permanen dengan bantuan kaleng cat," katanya.

Setelah divisum, korban langsung dimandikan dan dimakamkan di pandam pekuburan kaum yang tidak jauh dari rumah koran.

Ia juga mengatakan, penyebab korban telah menghabisi nyawanya sendiri akibat permasalahan keluarga.

Lebih jauh, Kapolsek telah menjelaskan sebelumnya korban mendapatkan bantuan dana untuk rumah tidak layak huni dari pemerintah pusat sebesar Rp 15 juta.

Karena tidak memiliki lahan untuk dapat membangun rumah, korban telah meminta tanah satu bidang kepada orangtuanya. Orangtuanya telah memberikan lahan itu.

Namun setelah rumah dibangun, anggota keluarga yang lain menggugat korban. Korban juga sempat mengeluarkan kata-kata akan bunuh diri pada orangtuanya karena masalah tersebut.

"Ini juga merupakan informasi yang kami peroleh dari masyarakat," katanya.


Editor : Dian Sukmawati

Wajah manusia terus berevolusi dari waktu ke waktu dan masih akan terus mengalami perubahan.

Saco-Indonesia.com - Wajah manusia terus berevolusi dari waktu ke waktu dan masih akan terus mengalami perubahan. Kini dengan bantuan teknologi, ilmuwan mampu memprediksi perubahan wajah manusia dalam kurun waktu hingga 100.000 tahun mendatang.

Seniman Nickolay Lamm dari MyVoucherCodes.co.uk berdiskusi dengan Alan Kwan, doktor di bidang computational genomics dari Wshington University. Dari diskusi tersebut, Lamm berupaya membuat ilustrasi wajah manusia dalam beberapa puluh ribu tahun mendatang.

Kwan percaya, evolusi masa depan akan lebih dikontrol oleh manusia yang berupaya beradaptasi dan mencukupi kebutuhannya. Dengan rekayasa genetika yang semakin maju, perubahan wajah akan lebih menyesuaikan dengan selera manusia. Dahi akan semakin lebar karena otak makin besar.

Wajah manusia akan lebih mengagumkan dari satu sudut pandang, terlihat tegas, punya hidung yang lurus, mata yang tajam serta rasio emas antara bagian kanan dan kiri wajah sehingga simetri sempurna.

20,000 years: Humans have evolved to have bigger heads due to larger brains, while on their 

eyes are 'communications lens', a more advanced version of 'Google Glass'

 

Wajah manusia 20.000 tahun lagi.

 

Mata manusia akan berkembang menjadi lebih besar sebagai bentuk adaptasi karena manusia sudah mengolonisasi Tata Surya dan mulai hidup di lingkungan yang lebih redup, lebih jauh dari Matahari.

Mata juga akan mengalami perkembangan lain. Ada fitu "eye shine" untuk memungkinkan manusia melihat dalam lingkungan dengan intensitas cahaya rendah. Selain itu, manusia bisa melakukan kedip samping untuk melindungi mata dari sinar kosmik.

Sementara itu, kulit manusia akan mengalami pigmentasi lebih iuntuk melindungi dari sinar UV. Alis akan menjadi lebih tepal dan tulang di bawahnya akan menjadi lebih tegas sebagai efek gravitasi rendah.

Lubang hidung juga akan menjadi lebih besar agar pernafasan lebih mudah. Selain itu, rambut manusia akan lebih lebat untuk mencegah hilangnya panas. Kosmetik pun akan berkembang. Orang tua bisa memilih sifat anaknya.

60,000 years: Human beings have even larger heads, larger eyes and pigmented skin. A 

pronounced superciliary arch makes for a darker area below the eyebrows

Wajah manusia 60.000 tahun lagi.

 

Kwan memprediksi bahwa manusia akan berupaya tampak sealami mungkin walaupun teknologi yang tertancap di bawah kulit akan makin berkembang.

"Lensa komunikasi yang berkontak langsung dengan mata dan perangkat bone-conduction yang diimplantasikan di bagian atas telinga akan bekerja bersama," kata Kwan seperti dikutip Daily Mail, Sabtu (8/6/2013).

"Perangkat bone-conduction dengan nanocip yang terpasang akan terhubung dengan perangkat di luar tubuh manusia untuk mendukung komunikasi dan hiburan," tambah Kwan.

 

 

100,000 years: The human face will have evolved to be 

proportioned to the 'golden ratio,' with unnervingly large eyes featuring a sideways blink

Wajah manusia 100.000 tahun lagi dengan mata yang super besar.

Editor :Liwon Maulana

saco-indonesia.com, Grup Telkom telah tercatat sebagai penguasa frekuensi di Indonesia karena saat ini telah memiliki lebar spek

saco-indonesia.com, Grup Telkom telah tercatat sebagai penguasa frekuensi di Indonesia karena saat ini telah memiliki lebar spektrum hingga 325MHz. Hal tersebut dari riset yang telah dipublikasikan Indonesia ICT Institute, pekan lalu.

Frekuensi milik Grup Telkom tersebar pada layanan Flexi, satelit, BWA, dan anak usahanya, Telkomsel. Untuk Flexi, Telkom telah memiliki 5MHz di pita 850MHz, satelit selebar 200MHz di pita 3,5MHz dan BWA di pita 2,3GHz selebar 75MHz.

Meskipun Telkom telah menyatakan sudah mengembalikan frekuensi di pita 2,3GHz, namun tak jelas berapa sebenarnya lebar spektrum yang telah dikembalikan BUMN telekomunikasi itu.

Sementara Telkomsel saat ini telah menguasai total frekuensi selebar 5MHz, sama dengan yang telah dimiliki XL. Sehingga dua operator seluler itu saat ini telah menjadi pemilik terbesar frekuensi seluler.

 

Komisi I DPR berteriak soal frekuensi yang dikatakan juga merupakan sumber daya yang pengalokasianya perlu dilakukan secara berhati-hati. Apa yang disampaikan DPR ini memang telah menjadikan frekuensi sebagai isu yang menjadi buah bibir beberapa waktu terakhir ini, terutama pasca konsolidasi sejumlah operator seperti XL dengan Axis.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementeri Kominfo M. Budi Setiawan, beberapa operator sudah memasuki zona merah alias kekurangan frekuensi sehingga penataan frekuensi telah menjadi cukup mendesak.

Saat ini operator dengan menggunakan frekuensi dalam rentang 450MHz hingga 3,5GHz, frekuensi-frekuensi yang dapat dipakai untuk broadband nirkabel, meski 2,6 serta 3,5GHz dipakai TV berlangganan berbasis satelit.

Selain alokasi tiap entitas operator, Indonesia ICT Institute juga telah mengumpulkan alokasi frekuensi berdasar grup atau konsolidasi yang sudah terjadi, seperti Bakrie Telecom yang telah membeli Sampoerna Telecom Indonesia dan Reka Jasa Akses (REJA) dicoba dikelompokan sebagai Bakrie Telecom, kemudian PT Telkom dan PT Telkomsel, ada juga Indosat dan IM2, serta Sinar Mas yang telah memiliki SmartFren dan SmartTelecom.


Editor : Dian Sukmawati

Gunung Merapi telah kembali menunjukkan aktivitasnya. Senin (10/3) pagi, beberapa desa di Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tenga

Gunung Merapi telah kembali menunjukkan aktivitasnya. Senin (10/3) pagi, beberapa desa di Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah telah diguyur hujan abu. Wilayah tersebut hanya berjarak sekitar 6 kilometer dari puncak gunung teraktif di Indonesia itu. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Sri Winoto juga membenarkan, hujan abu telah terjadi di wilayahnya. Berdasarkan informasi yang telah diterimanya, terjadi letupan kecil Merapi pada Senin pagi. "Benar, info dari BPPTK (Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian) Yogyakarta, telah terjadi letupan kecil Gunung Merapi pada jam 07.08 WIB. Terdapat awan hitam dengan ketinggian sekitar 1.5 km. Arah angin barat daya, kemungkinan hujan abu ringan ke arah barat daya," ujar Winoto. Akibat dari kejadian tersebut BPBD Klaten telah mengimbau masyarakat untuk harus mengenakan masker apabila akan bepergian ke luar rumah. "Kami juga telah mengimbau warga agar tetap di rumah selama masih terjadi hujan abu. Mereka juga kita harap untuk tetap waspada. Kondisi Merapi masih normal, warga tidak perlu khawatir," katanya.

Selama ini tekanan darah tinggi memang sudah diketahui sebagai faktor yang bisa meningkatkan risiko stroke. Namun baru-baru ini peneliti telah menemukan bahwa tekanan darah yang naik sedikit saja sudah bisa meningkatkan kemungkinan seseorang terkena stroke.

Selama ini tekanan darah tinggi memang sudah diketahui sebagai faktor yang bisa meningkatkan risiko stroke. Namun baru-baru ini peneliti telah menemukan bahwa tekanan darah yang naik sedikit saja sudah bisa meningkatkan kemungkinan seseorang terkena stroke.

Hasil ini telah didapatkan peneliti setelah menganalisis data dari 760.000 partisipan yang telah diikuti selama 36 tahun. Mereka telah menemukan bahwa kenaikan tekanan darah yang sedikit, seringkali disebut juga pre-hipertensi, bisa memicu terjadinya stroke. Kenaikan sedikit saja pada tekanan darah bisa meningkatkan risiko stroke hingga 66 persen.

"Analisis ini telah memberikan konfirmasi terhadap bukti-bukti pada banyak penelitian. Penelitian ini telah mengonfirmasi bahwa kenaikan sedikit tekanan darah saja penting dan sangat berimbas pada risiko stroke," ungkap Dr Ralph Sacco dari University of Miami Miller School of Medicine.

Sebelumnya penelitian di Southern Medical University, Guangzhou, juga telah menunjukkan bahwa 20 persen stroke terjadi pada orang yang telah mengalami pre-hipertensi. Hasil ini tetap sama meski peneliti memperhitungkan faktor lain seperti kolesterol tinggi, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Dr John Volpi dari Houston Methodist Hospital di texas telah menyarankan agar orang senantiasa mengontrol tekanan darah mereka. Jangan remehkan tekanan darah yang naik secara perlahan, meski tak sering. Karena itu bisa berimbas pada hal lainnya dan bahkan bisa memicu stroke. Lakukan juga gaya hidup yang sehat dan makan makanan bernutrisi untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.

saco-indonesia.com, Polri menelusuri keterkaitan bom bunuh diri di Mapolres Poso, Sulawesi Tengah dengan jaringan teroris Santoso.

Jakarta, Saco-Indonesia.com, Polri menelusuri keterkaitan bom bunuh diri di Mapolres Poso, Sulawesi Tengah dengan jaringan teroris Santoso. Demikian dikatakan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar.

Boy mengatakan, meski kelompok Santoso berada di balik aksi tersebut, namun Santoso sendiri masih buron bersama 20 DPO lainnya. 

Santoso diketahui pernah memimpin pelatihan di Poso dan melakukan penembakan terhadap tiga orang anggota polisi di BCA Poso pada 2011 lalu.

Boy menambahkan, polisi juga memfokuskan pencarian para DPO tersebut, termasuk Santoso untuk pengungkapan bom bunuh diri di Mapolres Poso.

Editor:Liwon Maulana

Sumber:Elshinta.com

saco-indonesia.com, Arsenal telah diyakini serius dalam memburu penyerang saat bursa transfer dibuka lagi awal tahun depan. Dan

saco-indonesia.com, Arsenal telah diyakini serius dalam memburu penyerang saat bursa transfer dibuka lagi awal tahun depan. Dan satu nama telah dilaporkan kembali masuk radar mereka, Michu milik Swansea City.

Sebagaimana yang telah dilaporkan The People, manajer The Gunners, Arsene Wenger telah diyakini siap untuk menghidupkan kembali minat pada striker Spanyol itu Januari nanti. Penyerang yang tampil fenomenal dengan 22 gol di debut Premier League musim lalu itu memang dipercaya sudah masuk radar Wenger sebelumnya.

Dan minat Arsenal tersebut tampaknya akan bersambut karena striker 27 tahun itu telah memberi sinyal siap untuk meninggalkan Liberty Stadium andai tawaran gabung tim besar datang untuknya.

"Setiap pemain bermimpi untuk bisa membela tim besar, klub yang bermain di Liga Champions dan bertarung memburu gelar juara. Saya pun tak beda. Saya memang sangat bahagia di Swansea, tapi jelas tiap pemain ingin berkembang dan melihat seberapa jauh langkahnya," ungkap eks Rayo Vallecano itu.


Editor : Dian Sukmawati

Mr. Bartoszewski was given honorary Israeli citizenship for his work to save Jews during World War II and later surprised even himself by being instrumental in reconciling Poland and Germany.

A lapsed seminarian, Mr. Chambers succeeded Saul Alinsky as leader of the social justice umbrella group Industrial Areas Foundation.

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

The 6-foot-10 Phillips played alongside the 6-11 Rick Robey on the Wildcats team that won the 1978 N.C.A.A. men’s basketball title.

A 214-pound Queens housewife struggled with a lifelong addiction to food until she shed 72 pounds and became the public face of the worldwide weight-control empire Weight Watchers.

Under Mr. Michelin’s leadership, which ended when he left the company in 2002, the Michelin Group became the world’s biggest tire maker, establishing a big presence in the United States and other major markets overseas.

WASHINGTON — The former deputy director of the C.I.A. asserts in a forthcoming book that Republicans, in their eagerness to politicize the killing of the American ambassador to Libya, repeatedly distorted the agency’s analysis of events. But he also argues that the C.I.A. should get out of the business of providing “talking points” for administration officials in national security events that quickly become partisan, as happened after the Benghazi attack in 2012.

The official, Michael J. Morell, dismisses the allegation that the United States military and C.I.A. officers “were ordered to stand down and not come to the rescue of their comrades,” and he says there is “no evidence” to support the charge that “there was a conspiracy between C.I.A. and the White House to spin the Benghazi story in a way that would protect the political interests of the president and Secretary Clinton,” referring to the secretary of state at the time, Hillary Rodham Clinton.

But he also concludes that the White House itself embellished some of the talking points provided by the Central Intelligence Agency and had blocked him from sending an internal study of agency conclusions to Congress.

Photo
 
Michael J. Morell Credit Mark Wilson/Getty Images

“I finally did so without asking,” just before leaving government, he writes, and after the White House released internal emails to a committee investigating the State Department’s handling of the issue.

A lengthy congressional investigation remains underway, one that many Republicans hope to use against Mrs. Clinton in the 2016 election cycle.

In parts of the book, “The Great War of Our Time” (Twelve), Mr. Morell praises his C.I.A. colleagues for many successes in stopping terrorist attacks, but he is surprisingly critical of other C.I.A. failings — and those of the National Security Agency.

Soon after Mr. Morell retired in 2013 after 33 years in the agency, President Obama appointed him to a commission reviewing the actions of the National Security Agency after the disclosures of Edward J. Snowden, a former intelligence contractor who released classified documents about the government’s eavesdropping abilities. Mr. Morell writes that he was surprised by what he found.

Advertisement

“You would have thought that of all the government entities on the planet, the one least vulnerable to such grand theft would have been the N.S.A.,” he writes. “But it turned out that the N.S.A. had left itself vulnerable.”

He concludes that most Wall Street firms had better cybersecurity than the N.S.A. had when Mr. Snowden swept information from its systems in 2013. While he said he found himself “chagrined by how well the N.S.A. was doing” compared with the C.I.A. in stepping up its collection of data on intelligence targets, he also sensed that the N.S.A., which specializes in electronic spying, was operating without considering the implications of its methods.

“The N.S.A. had largely been collecting information because it could, not necessarily in all cases because it should,” he says.

The book is to be released next week.

Mr. Morell was a career analyst who rose through the ranks of the agency, and he ended up in the No. 2 post. He served as President George W. Bush’s personal intelligence briefer in the first months of his presidency — in those days, he could often be spotted at the Starbucks in Waco, Tex., catching up on his reading — and was with him in the schoolhouse in Florida on the morning of Sept. 11, 2001, when the Bush presidency changed in an instant.

Mr. Morell twice took over as acting C.I.A. director, first when Leon E. Panetta was appointed secretary of defense and then when retired Gen. David H. Petraeus resigned over an extramarital affair with his biographer, a relationship that included his handing her classified notes of his time as America’s best-known military commander.

Mr. Morell says he first learned of the affair from Mr. Petraeus only the night before he resigned, and just as the Benghazi events were turning into a political firestorm. While praising Mr. Petraeus, who had told his deputy “I am very lucky” to run the C.I.A., Mr. Morell writes that “the organization did not feel the same way about him.” The former general “created the impression through the tone of his voice and his body language that he did not want people to disagree with him (which was not true in my own interaction with him),” he says.

But it is his account of the Benghazi attacks — and how the C.I.A. was drawn into the debate over whether the Obama White House deliberately distorted its account of the death of Ambassador J. Christopher Stevens — that is bound to attract attention, at least partly because of its relevance to the coming presidential election. The initial assessments that the C.I.A. gave to the White House said demonstrations had preceded the attack. By the time analysts reversed their opinion, Susan E. Rice, now the national security adviser, had made a series of statements on Sunday talk shows describing the initial assessment. The controversy and other comments Ms. Rice made derailed Mr. Obama’s plan to appoint her as secretary of state.

The experience prompted Mr. Morell to write that the C.I.A. should stay out of the business of preparing talking points — especially on issues that are being seized upon for “political purposes.” He is critical of the State Department for not beefing up security in Libya for its diplomats, as the C.I.A., he said, did for its employees.

But he concludes that the assault in which the ambassador was killed took place “with little or no advance planning” and “was not well organized.” He says the attackers “did not appear to be looking for Americans to harm. They appeared intent on looting and conducting some vandalism,” setting fires that killed Mr. Stevens and a security official, Sean Smith.

Mr. Morell paints a picture of an agency that was struggling, largely unsuccessfully, to understand dynamics in the Middle East and North Africa when the Arab Spring broke out in late 2011 in Tunisia. The agency’s analysts failed to see the forces of revolution coming — and then failed again, he writes, when they told Mr. Obama that the uprisings would undercut Al Qaeda by showing there was a democratic pathway to change.

“There is no good explanation for our not being able to see the pressures growing to dangerous levels across the region,” he writes. The agency had again relied too heavily “on a handful of strong leaders in the countries of concern to help us understand what was going on in the Arab street,” he says, and those leaders themselves were clueless.

Moreover, an agency that has always overvalued secretly gathered intelligence and undervalued “open source” material “was not doing enough to mine the wealth of information available through social media,” he writes. “We thought and told policy makers that this outburst of popular revolt would damage Al Qaeda by undermining the group’s narrative,” he writes.

Instead, weak governments in Egypt, and the absence of governance from Libya to Yemen, were “a boon to Islamic extremists across both the Middle East and North Africa.”

Mr. Morell is gentle about most of the politicians he dealt with — he expresses admiration for both Mr. Bush and Mr. Obama, though he accuses former Vice President Dick Cheney of deliberately implying a connection between Al Qaeda and Iraq that the C.I.A. had concluded probably did not exist. But when it comes to the events leading up to the Bush administration’s decision to go to war in Iraq, he is critical of his own agency.

Mr. Morell concludes that the Bush White House did not have to twist intelligence on Saddam Hussein’s alleged effort to rekindle the country’s work on weapons of mass destruction.

“The view that hard-liners in the Bush administration forced the intelligence community into its position on W.M.D. is just flat wrong,” he writes. “No one pushed. The analysts were already there and they had been there for years, long before Bush came to office.”

Ms. Crough played the youngest daughter on the hit ’70s sitcom starring David Cassidy and Shirley Jones.

Mr. Goldberg was a serial Silicon Valley entrepreneur and venture capitalist who was married to Sheryl Sandberg, the chief operating officer of Facebook.

Dave Goldberg Was Lifelong Women’s Advocate